
Pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir diharapkan meraih juara di Guangzhou.
Indonesia kembali punya peluang
menunjukkan pengaruh yang sempat pudar di peta bulu tangkis dunia di
Kejuaraan Dunia Badminton 2013 di Guangzhou, Cina.
Dua gelar juara menjadi target, yaitu dari ganda putra
Klik
unggulan ke enam Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan serta pasangan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, yang diunggulkan di tempat ketiga.
Di pundak mereka disandarkan harapan
untuk mengulang prestasi 2007 di Kuala Lumpur, ketika Markis
Kido/Hendra Setiawan dan Nova Widianto/Liliyana Natsir mempersembahkan
gelar untuk Indonesia.
Turnamen yang berlangsung 5-11 Agustus diikuti 400 pemain dari 46 negara.
Indonesia mengirim 28 pemain dengan rincian
empat tunggal putra, tunggal putri, ganda putri, serta dua pemain ganda
putri dan empat pemain ganda campuran.
Saingan baru
Namun seperti kalimat yang diucapkan ahli politik Machiavelli, "
keep your friends close but your enemies closer," Indonesia jelas perlu memantau perkembangan pemain-pemain dari negara lain dan mengintip strategi mereka.

Pasangan Rusia, Sorokina/Vislova, meraih medali perunggu di Olimpiade London 2012.
Salah satu negara yang perlahan diperhitungkan di peta bulu tangkis kompetitif adalah Rusia.
Sebagai negara dengan bulu tangkis bukan olahraga populer, Rusia benar-benar menunjukkan tajinya ketika pasangan ganda putri
Klik
Valeria Sorokina/Nina Vislova meraih Klik
medali perunggu di Olimpiade London 2012.
Memang pertandingan ganda putri saat itu
diwarnai skandal 'permainan gajah' sehingga membuat pasangan Indonesia,
Meiliana Jauhari/Greysia Polii, didiskualifikasi dengan dua pasangan
Korea Selatan dan satu pasangan Cina.
Pasangan Sorokina/Vislova sebenarnya sudah
tersingkir di babak penyisihan grup namun kemudian turun kembali dan
meraih medali perunggu.
Dari Asia, Jepang pun mulai menjadi ancaman serius. Butuh bukti?
Di Djarum Indonesia Open 2013 -meski tidak menggondol medali apa pun- seluruh pemain tunggal putri Jepang lolos ke babak kedua.
Tim Thomas dan Uber Jepang bahkan mengakhiri
perlawanan Indonesia pada babak perempat final Piala Thomas dan Uber di
Wuhan Cina, Mei 2012.
Sistem peringkat
Lantas, apa yang dilakukan Indonesia agar tidak tertinggal dari rival-rival baru?
Basri Yusuf, Kepala Bidang Pengembangan PBSI,
mengatakan aspek yang diutamakan oleh Ketua PP PBSI Gita Wirjawan dalam
upaya pengembangan prestasi olahraga bulutangkis adalah
sport science.
Metode ini sudah lama digunakan oleh Cina,
Malaysia dan Negara-negara Eropa tapi Indonesia baru menerapkannya di
Piala Sudirman 2013.

Simon Santoso kalah dari pemain Taiwan, Jen Hao Hsu, di babak pertama.
Secara singkat, sport science membuat setiap
keputusan di lapangan diambil berdasarkan analisa yang terukur bukan
sekedar asumsi atau insting semata.
Langkah lainnya sejak awal 2013, Kepala Bidang
Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Rexy Mainaky, mensosialikasikan sistem
promosi dan degradasi yaitu penilaian peringkat berdasarkan prestasi,
disiplin, dan prospek masa depan.
Sistem ini diharapkan bisa menjadi motivasi bagi
pemain untuk terus berusaha memberikan yang terbaik. Dalam Kejuaraan
Dunia di Guangzhou, pemain yang terancam terdegradasi adalah Simon
Santoso.
Rexy sebelumnya sudah mengatakan bahwa Guangzhou
akan menjadi arena pembuktian bagi Simon, yang sekarang berada di
peringkat 26 dunia.
Tentunya penampilan Simon di Cina akan
dievaluasi dan bukan tidak mungkin ia terlempar dari tim utama di
pelatnas. Simon sudah langsung di babak pertama dari pemain Taiwan, Jen
Hao Hsu, walau sempat unggul di set pertama.
Bisa jadi Simon kelak hanya akan diturunkan di kompetisi lapis dua seperti
Grand Prix.
Pahit? Mungkin, tapi semua itu bermuara pada satu tujuan yaitu: prestasi.
Bulutangkis Indonesia pernah sangat bersinar dan pemain-pemain kita sangat ditakuti. Akankah era itu kembali?